SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H /2016 M : Maaf Lahir dan Bathin

Minggu, 20 Desember 2009

Penobatan Majelis Raja


KETAPANG—Ikatan Keluarga Besar Kerajaan Matan Tanjungpura Kabupaten Ketapang Kalimantan Barat memaklumatkan majelis raja terdiri dari Ir H Gusti Kamboja MH bergelar Pangeran Ratu Kertanegara, Gusti Fadlin S Sos bergelar Pangeran Anom Laksamana, H Uti Iwan Kusnadi BA bergelar Pangeran Adipati. Penobatan Majelis Raja dilaksanakan bersamaan dengan pengukuhan Dewan Mangku Kerajaan Matan Tanjungpura yang juga diketuai  Pangeran Ratu Kertanegara Ir H Gusti Kamboja, MH.


Penobatan Majelis Raja dan pengukuhan Dewan Mangku dilakukan oleh Dewan Sepuh dan Pemuka agama yang disaksikan para tokoh adat. Penobatan dipusatkan di Keraton Kerajaan Matan Tanjungpura, Ketapang di jalan Pangeran Kusuma Jaya  Mulia Kerta, hari Sabtu 19 Desember 2009. Tujuan digelarnya penobatan Majelis Raja dan pengukuhan Dewan Mangku ini untuk mengkekalkan marwah kerajaan sebagai benteng budaya masyarakat Kabupaten Ketapang.

Menurut Ketua Dewan Mangku Kerajaan Matan Tanjungpura, Pangeran Ratu Kertanegara Ir H Gusti Kamboja, MH digelarnya penobatan majelis raja ini diharapkan keraton menjadi rumah bagi semua etnis di Ketapang. Sehingga kedepannya keraton menjadi pusat kebudayaan dari berbagai etnis yang berada di Kabupaten Ketapang. “Keraton milik bersama masyarakat Ketapang demi upaya pelestarian budaya sejarah dan mencari jati diri budaya masyarakat,” ditemui di Keraton Matan Tanjungpura, Kamis (18/12) kemarin.

Berdasarkan sejarah. Sejak pemerintahan swapraja kerajaan Matan tahun 1958. Bentuk majelis raja ini baru ada saat awal berdirinya Republik Indonesia pada tahun 1945 hingga 1948. yakni Majelis Pemerintahan Kerajaan Matan (MPKM) yang dijabat Uti Halil (Pangeran Mangku Negara), Uti Aplah (Pangeran Adipati), dan Gusti Kencana (Pangeran Anom Laksamana) yang melebur dalam keresiden Kalimantan Barat. Setelah itu majelis raja kosong. Baru pada tahun 2009 ini, majelis raja ini dibentuk kembali untuk mengembalikan marwah kerajaan.

Kerajaaan Matan Tanjungpura memiliki sejarah panjang. Kerajaan Matan ini merupakan saksi bisu perjalanan sejarah masyarakat dan pemerintahan ketapang. Sekaligus dinasti terakhir kerajaan Tanjungpura beragama Hindu yang pernah berdiri sejak abad 9. Baru setelah tahun 1451 raja-raja Tanjungpura memeluk agam Islam dengan nama Kerajaaan Matan yang dipimpin raja pertama bercirikan Islam yakni Pangeran Giri Kusuma.

Matan yang berarti “Tanah keselamatan” sebagai kerajaan tertua masa itu mengalami perpecahan. Perpecahan akibat politik kolonial sehigga terbagi menjadi Kerajaan Simpang, Indralaya, Kerajaan Martapura. Sampai akhirnya sekitar tahun 1935 Kerajaan Matan yang semula di Desa Tanjungpura dipindahkan oleh Penembahan Al-haji Muhammad Sabran di Mulia Kerta sampai sekarang. Setalah sekitar 1835 hingga 1922 berkuasa sebagai raja Matan, Al-haji Muhammad Sabran digantikan oleh Gusti Basrah yang meninggal setahun kemudian dan kepemimpinan kerajaan Matan diambil alih sang putranya Gusti Saunan yang masih belia.

Karena waktu itu Gusti Muhammad Saunan masih menempuh pendidikan di sekolah STOVIA atau tingkat SMA sederajat di Provinsi Banten sekarang ini. Perannya selaku raja digantikan sang paman Pangeran Laksamana Uti Muhsin. Setelah tahun 1942 Gusti Saunan kembali memagang tapuk kepemimpinan. Pemuda cerdas ini tidak lama menjadi Raja karena ia menjadi korban kekejaman (penyungkupan) penjajah Jepang. Dan kerajaan Matan diteruskan oleh ahli waris kerajaan. Itulah sekilas perjalanan sejarah kepemimpinan sejarah Kerajaan Matan Tanjungpura.

Penobatan Majelis Raja disambut posif sejumlah pelaku budaya dan tokoh masyarakat. Seperti budayawan puak melayu Malik AY, menyambut positif penobatan ini. Penobatan gelar ini merupakan langkah maju puak melayu di Kalimantan Barat dan Indonesia umumnya. Penobatan ini sekaligus merupakan perekat budaya masyarakat Ketapang secara menyeluruh. Tidak hanya sekedar seremoni, namun memiliki nilai-nilai budaya yang patut dilestarikan. Bahkan dia menyebutkan prosesi ini sebuah simbol keberanian eksistensi budaya lama demi perkembangan budaya melayu dan masyarakat. Gelar yang melekat pada masing-masing ahli waris merupakan bukti nilai budaya dilestarikan demi terciptanya persatuan dan kesatuan. “Selaku masyarakat kita berterima kasih dengan adanya proses penobatan gelar majelis raja ini demi mengukuhkan nilai budaya lama yang diciptakan demi keteraturan sehingga tercipta persatuan dan kesatuan,” tegasnya.

Tak hanya itu, Ketua Umum Dewan Adat Dayak (DAD) Kabupaten Ketapang, Martin Rantan, juga menyambut baik penobatan dan pengukuhan Majelis Raja dan Dewan Mangku Kerajaan Matan Tanjungpura. Menurutnya ini sebuah bentuk pelestarian budaya khususnya silsilah kerajaan yang akan memperkayah khazanah budaya bangsa. “Penobatan gelar semacam ini patut dibanggakan dan dipertahanakan demi memperkaya budaya Kabupaten Ketapang dan Kalbar umumnya, meskipun tidak memiliki implikasi dalam pemerintahan saat ini,” katanya. Namun setidaknya, kata dia, masyarakat Ketapang khususnya bisa menambah wawasan mengenai budaya bangsa. Ia mengharapkan prosesi melestarikan budaya dipertahankan dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Hal senada diungkapkan pemuka etnis Tionghwa, Suwandi dan Yasanagari, penobatan ini tak hanya proses kerajaan. Akan tetapi nantinya merupakan salah satu budaya masyarakat Ketapang yang patut dilestarikan. Selaku warga Ketapang, kata Suwandi, dirinya bangga dengan banyaknya khazanah budaya di Ketapang. Ia berharap menjadi perekat persatuan dan kesatuan dimana etnis yang ada bisa membina persaudaraan dengan mengenal masing-masing budaya. Bahkan bisa jadi, lanjut dia, prosesi pemberian gelar ini dapat dipublikasikan ke masyarakat luar sehingga memiliki nilai jual dengan datangnya wisatawan. “Prosesi pemberian gelar ini merupakan nilai jual bagi wisatawan untuk datang ke Ketapang selain mempertahankan nilai budaya yang ada,” ungkap pelaku seni tradisional Tionghwa Erhu ini.

Terpisah, Kepala Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Yudo Sudarto, melihat proses penobatan majelis raja Kerajaan Matan Tanjungpura ini baik bagi perkembangan pariwisata dan kebudayaan di Kabupaten Ketapang. Selain menggali nilai-nilai budaya lama, prosesi ini merupakan wujud melestarikan budaya yang ada. Bahkan penobatan ini membuat keraton sebagai wadah belajar masyarakat untuk mengetahui jatidiri budaya itu sendiri. “Kita berharap keraton berfungsi sebagai museum dimana semua masyarakat bisa belajar menemukan jatidiri budaya demi menambah khazanah kekayaan budaya bangsa,” jelasnya.

Ia membandingkan seperti halnya Keraton kesultanan Yogyakarta sebagai meseum belajar budaya. Tak hanya itu seperti halnya keraton Yogyakarta. Keraton Matan Tanjungpura nantinya dapat menjadi daya tarik sendiri dengan turis baik dalam dan luar negeri dengan memberikan atraksi prosesi dan silsilah yang memiliki nilai budaya tinggi. Apalagi untuk mensukseskan Visit Kalbar Years 2010, Kabupaten Ketapang haruslah mampu menarik minat wisatawan berkunjung dengan menjual nilai-nilai budaya, sejarah budaya yang bernilai tinggi, disamping tetap mempertahankan budaya ditengah hiruk pikuk budaya modern saat ini. (har/ptk post)

5 komentar:

  1. Yang Mulia;

    Sorry:I have:Gusti Saunan was raja from 1922 and not 1942.Regency council 1944-46 and then from 1946 one of the mebers become Regent-Panembahan:Uti Aplah/Aflah.

    Interesting!!!

    Salam hormat:
    DP Tick gRMK/Pusaka
    pusaka.tick@tiscali.nl

    BalasHapus
  2. Yang Mulia;

    Hereby I put my info about the last 10 raja governments on your site.Any comment on it is welcome.Excuse me,HH Gusti Kamboja stil cab be reached at gustikamboja@yahoo.com .Thank you.

    LIST OF THE RAJA GOVERNMENTS OF THE PRINCIPALITY OF MATAN(BEFORE 1790-1958)
    ---------------------------------------------------------------------------

    1)Sultan Ahmad Kamaluddin Indralaya:ruled until 1790.Later settled at Laja. Died 1792.
    2)Sultan Muhammad Jamaluddin:1790-1829,before known as Gusti Asma,son,deposed 1827,f.i. 1823 stayed in Simpang Bengadong.1 and 2 were the last sultans of the Sukadana(-Matan)principality.In fact the Sukadana principality.Later the town of Sukadana and the surrounding and an island group ruled by a new dynasty,who also were recognized as the paramount-rajas of Sukadana-Matan empire.Born ca. 1763.Died (as nominal-raja)1829.For Holland he was from 1827 no more the ruler of Sukadana.
    3)Panembahan Anom Kusuma Negara;before known as Pangeran Adi Mangkurat.Ruled 1829-deposed 24-6-1833/again:1835-died 21-12-1844.From 24-4-1837 Matan was no longer part of the Sukadana kingdom.Son.
    4)Pangeran Cakra Yang Tua:1833-1835.Temporarily deposed 12-8-1835,died ca. 14-8-1835.
    5)Regency council:1845(1844?)-1847,formed by the mantris(minsisters)and led by Pangeran Mangkurat,brother-in-law of 6.
    6)Panembahan Haji Muhammad Tsabaran:son 3,ruled 1847-died 17-8-1908,born 1831(some say 1829).Definitive panembahan 11-3-1847,from februari 1856 until 4-2-1857 forced to stay in Batavia,because Holland was nit satisfied with some aspects of his rule.I do not know,who managed the day to day rule then.
    7)Regency-council:1908-1922,members:Pangeran Kesuma Jaya(son of brother of 6),Uti Mokhsin gelar Pangeran Laksamana Kesuma Negara(son 6),Gusti Diusca gekar Pangeran Adipati Anom Kesuma Ningrat(died 15-4-1919,1/2 brother of previous mentioned royal)and Uti Zakaria gelar Pangeran Kesuma Jaya(half-brother of previous mentioned royal).
    8)Panembahan Gusti Muhammad Saunan:grandson 6,born 1902(some say 1900),ruled 1922 until executed by Japanese ocupation force in 1944.His father Gusti(Uti?)Busrah gelar Pangeran Ratu Anom Kesuma Agung(born ca. 1868)was from 1893 the crownprince.He was son of 6.He died in 1905.
    9)Ruling council:1944-1946,members:Uti Halil gelar Pangeran Mangku Negara(son of the brother of the former crownprince),Uti Kencana gelar Pangeran Anom Laksamana(same,but his father was Uti Mokhsin(member regency council 1908-22) and 10.
    10)An influential member of the dynasty and close family of 8 was chosen after WW II as panembahan of Matan.He was born ca. 1895.I do not know his name,nor the date,when he was chosen.Maybe that was done in 1946???
    Because he had not really a full right to be the new panembahan according to the dynastic rules,he was not installed.
    11)Uti Aplah/Aflah:brother 8,had as member of the regencycouncil the title Pangeran Adipati Kusuma.Temporary-Panembahan(Wakil-Panembahan).Ruled until end monarchy in 1958?Died 1960.

    I hope interesting for you.I also have a list of the first 16 rulers of Sukadana-Matan.If you are also interested in that,you can tell me.

    Thank you for your attention,possible reactions,etc.

    Yours sincerelly:
    D.P. Tick gRMk
    secr. Pusat Dokumentasi Kerajaan2 di Indonesia "Pusaka"
    Vlaardingen/Holland
    http://kerajaan-indonesia.blogspot.com
    pusaka.tick@tiscali.nl
    facebook:Donald Tick

    BalasHapus
  3. Yang Mulia;

    I have read,that a branch of the dynasty of Sukadana-Matan ruled the area of Kendawangan.That area became in 1817 a vasal-principality inside Matan.After the death of the sub-raja here at 19-1-1852 Kendawangan became a direct ruled area of matan again.

    Thank you for your attention.

    Salam hormat:
    D.P. Tick gRMK/Pusaka

    BalasHapus
  4. Yang Mulia;

    Okay,hereby I put a thing on the site I wanted to put there before.About the amount of people of the kerajaan of Matan in 1920,1930,etc.
    If you are interested to new info for your website,you can just e-mail me at pusaka.tick@tiscali.nl .I hope you like it I give you these info's.

    Salam hormat:
    D.P. Tick gRMK
    pusaka.tick@tiscali.nl
    http://kerajaan-indonesia.blogspot.com

    1920:48.475 inhabitants.
    In the onderafdeeling(sub-kabupaten)Lower Matan(Beneden Matan)there were 16.242 inhabitants.It was also a district.
    In the onderafdeeling Upper(Boven)Matan there were 32.233 inhabitants;divided between 4 districts:
    Nanga Tajap:6.099 inhabitans
    Pesagoean:8.680 inhabitants
    Matan Oeloe:7.167 inhabitants
    Kendawangan Djelai:10.287 inhabitans.

    In 1930 Matan had ca. 59.000 inhabitants divided between:
    Lower/Beneden Matan(as district called Matan Hilir):20.881
    Upper/Boven Matan:Marau:13.308
    Nanga-Tajap[:6.512
    Sandai:8.549
    Toembang Titi(also called a district):9.320

    In 1944:Lower Matan;also called Ketapang;had 34.421 people spread over 39 kampongs and 5.908 houses.
    Kami,or Upper Matan then had 45.488 people:155 kampongs in 3 districts and 8.769 houses.

    In 1948 Lower Matan had 38.400 people on 8.460 km2 and now they say 155 kampongs,but I think that is for Upper Matan.
    Upper Matan then had 47.168 people on 20.860 km2 and of course in LM still 39 kampongs.

    Maybe until later.

    Salam hormat:
    DP Tick

    BalasHapus
  5. On behalf of the kingdom Matan Tanjungpura said thank you, on information of the silsilah that is given by you.

    BalasHapus