SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H /2016 M : Maaf Lahir dan Bathin

Selasa, 07 Juni 2016

ABU NAWAS : Penyair atau Pelawak

Dalam literatur Melayu dan Indonesia nama Abu Nawas (Abu Nuwas) dikenal sebagai tokoh lucu yang cerdik. Hanya itu. Asosiasi masyarakat pun jadi terpengaruh. Demikian besar pengaruhnya, sehingga baru namanya saja disebut, orang sudah mau tertawa.

Begitu juga jika terjadi suatu peristiwa yang tidak masuk akal, karena kebodohan atau karena kepintaranya. Orang lalu mengaitkanya kepada Abu Nawas, kadang dalam arti pujian, kadang dalam arti cemoohan. Karena masih terpengaruh oleh stigma tokoh yang lucu dan cerdik, lalu orang-orang berkata: Dasar Abu Nawas!

Ada yang menilai tokoh ini jenaka dan ada yang menilai Abu Nawas sebagai penyair. Dalam literatur berbahasa Arab dan beberapa berbahasa Barat, baik dalam penulisan sejarah sastra Arab atau biografi, orang itu hanya dikenal dengan satu sebutan.

Sebagai penyair besar dengan gaya yang khas. Encyclopedia Britannica menyebutkan Abu Nawas adalah penyair Arab terbesar pada masanya (sub verbo Abu Nawas, 1968). Maka timbul pertanyaan, dari mana datangnya predikat Abunawas yang pelawak itu? Predikat itu timbul sekitar 5-6 abad yang lalu.

Ada dugaan, mungkin berasal dari Turki, India dan Persia. Sedangkan di tempat asalnya, Irak, predikat sebagai pelawak tidak dikenal. Sebaliknya, dalam literatur Arab, tokoh legenda yang jenaka, cerdik sekaligus bodoh yang mirim-mirip si Kabayan, dikenal sebagai nama Juha.

Mungkinkah perbedaan sebutan itu karena pengaruh semantik bahasa?

Sajak-sajak penyair ini dalam kritik-kritik sastra digolongkan kedalam apa yang disebut sastra mujun. Dalam kamus-kamus bahasa Arab bilingual kata mujun pada umumnya diartikan jenaka atau lawak, buffoonery, sanda gurau atau tebal muka.

Sedangkan dalam kamus-kamus besar seperti Lisan'l 'Arab kata mujun berarti serba tak acuh terhadap apa yang diperbuatnya. Mungkinkan karena pengaruh semantik ini Abu Nawas dipersepsikan secara berbeda?

Sesuai Alquran, Surat An-Nisa ayat 43, shalat dalam keadaan mabuk dilarang, maka dalam sajaknya Abu Nawas mengatakan, bahwa bila waktu shalat tiba, sengaja dia minum-minum sampai mabuk. Terhadap mereka yang sering menegurnya.

Maka, ia menantang dengan lantuan sajak: "Jangan kau tegur aku. Teguranmu malah merangsangku. Biarkan aku berobat dengan yang kusebut penyakit. Warna kuning emas tak kenal duka. Menyetuh batu, bila disentuh pun ceria, gembira."

Sajak tersebut cukup panjang dan dipandang paling indah yang pernah ditulis orang dalam melukiskan minuman keras, sampai-sampai ia berkata, "Jika anggur itu dicampur dengan cahaya, ia akan membaur, dan lahirlah cahaya dengan segala kecermelangannya."

Bukan saja dalam melukiskan minuman anggur, tapi juga dalam segala pelanggaran moral terlihat dalam sajak-sajaknya. 

Memang ada yang menyebutkan pribadinya simpatik, wajahnya tampan, suka pada humor dan disukai dalam pergaulan. Apa yang dilukiskan Dr. Syauqi Deif, kritikus sastra Arab terkemuka cukup menggambarkan latar belakang kehidupanya.

Ia berdarah Persia, cepat naik darah, tapi pengetahunya begitu luas dalam pelbagai kebudayaan yang hudup masa itu. Dari kebudayaan Arab sampai kebudayaan Islam, dari kebudayaan Hindu, Persia, Yunani, Yahudi dan Kristen. 

Di masa mudanya Abu Nawas pernah hanyut dalam perbuatan-perbuatan maksiat, seperti yang diterangkan oleh Dr. Syauqi Deif dalam Tarikh' l-Adab al-Arabi. Di atas semua itu dia percaya Tuhan adalah Maha Pengampun, begitulah yang digambarkan oleh Dr. Omar Farrukh dalam buku Abu Nuwas. Ia juga menyebutkan, kedudukan syair-syair Abu Nawas dalam sastra Arab tinggi sekali. Pilihan kata-kata dalam sajaknya orisinal dan kena. 

Puisi-Puisinya dianggap paling lengkap dan tepat sekali melukiskan suasana dan masyarakat masa itu di Baghdad dan sekitarnya. Sebagai penyair, Abu Nawas pernah hidup di istana Khalifah Harun ar-Rasyid dan penggantinya al-Amin.

Tetapi, tak jarang ia meringkuk dalam penjara karena sikapnya yang dinilai kuarang ajar dan sajak-sajanya yang nyentrik. (sumber : Republika.Co.Id)(A1)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar