SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1437 H /2016 M : Maaf Lahir dan Bathin

Selasa, 07 Juni 2016

ABU NAWAS : Penyair atau Pelawak

Dalam literatur Melayu dan Indonesia nama Abu Nawas (Abu Nuwas) dikenal sebagai tokoh lucu yang cerdik. Hanya itu. Asosiasi masyarakat pun jadi terpengaruh. Demikian besar pengaruhnya, sehingga baru namanya saja disebut, orang sudah mau tertawa.

Begitu juga jika terjadi suatu peristiwa yang tidak masuk akal, karena kebodohan atau karena kepintaranya. Orang lalu mengaitkanya kepada Abu Nawas, kadang dalam arti pujian, kadang dalam arti cemoohan. Karena masih terpengaruh oleh stigma tokoh yang lucu dan cerdik, lalu orang-orang berkata: Dasar Abu Nawas!

Kamis, 26 Mei 2016

Keraton Matan Berikan Penghargaan Budaya

Bertempat di Istana Matan Tanjungpura Kelurahan Mulia Kerta Ketapang pada tanggal 15 Mei 2016 yang lalu bersamaan dengan pembukaan festival keraton Matan Tanjungpura Ke-V, tiga tokoh budayawan Ketapang mendapat penghargaan Wira Wangsa Budaya yang merupakan Darjah Kebesaran Kerajaan dibidang seni budaya yang diserahkan langsung oleh PRK. Haji Gusti Kamboja. Ketiga tokoh tersebut adalah  H. Baswedan Bin H. Ibrahim Badjuri dari tokoh budaya melayu, Fransiskus Suma dari tokoh budaya Dayak dan Yasa Nagari dari tokoh budaya Tionghoa. Penghargaan ini diberikan kerajaan atas dedikasi dan pengabdiannya dalam usaha melestarikan kebudayaan Melayu, Dayak dan Tionghoa di Ketapang.

Selasa, 24 Mei 2016

BNI Ketapang Berikan Hadiah Tabungan Pelajar


PRK. Haji Gusti Kamboja menutup Festival Keraton Matan
Tanjungpura Ke-V Tahun 2016 di Pentas Seni Budaya Matan
Festival Keraton Matan Tanjungpura ke-V tahun 2016 pada minggu malam tangal 21 Mei 2016 lalu resmi ditutup oleh Pangeran Ratu Kertanegara H. Gusti Kamboja. Dalam sambutannya Gusti Kamboja menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu suksesnya kegiatan Festival, terutama kepada Bupati Ketapang, Kapolres Ketapang beserta jajarannya, Dinas Budparpora, Dinas Perhubungan, Satpol PPP, Basarnas Ketapang dan semua pihak yang turut membantu.

Kamis, 19 Mei 2016

Letupan Meriam Tandai Pembukaan Festival Keraton


Raja Sultan menaiki kapal Sripawan  menuju Istana Matan
Festivial Keraton Matan Tanjungpura Ke-V tahun 2016 secara resmi dibuka dengan ditandai empat kali letupan Meriam pusaka "Padam Pelite" Istana Matan Tanjungpura, masing-masing oleh Sri Sultan Haji Iskandar Mahmud Badaruddin Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Haji Khairul Saleh Al-Mu'tashim Billah Kesultanan Banjar, Bupati Ketapang dan Raja Iswaramahayana Dipati Karang Tanjung Haji Gusti Suriansyah Raja Landak. Hadir juga pada pembukaan festival ini adalah Raja Sanggau Pangeran Ratu Drs. Gusti Arman, M.SiSekjen ICKN Pusat Pangeran NA. Mas’ud Thoyib J Adiningrat, Raja Tayan Panembahan Anom Pakunegara Gusti Yusri, SH beserta permaisuri, Ratu Endang Kesultanan Sambas, Pangeran Ratu Agung Mahkota Seri Maharaja Syarif Melvin Alkadrie Putra Mahkota Kesultanan Pontianak, Pangeran Hukma Putra Mahkota Kerajaan Simpang, Pangeran Syarif Muhammad Alaydrus Pemangku Kerajaan Kubu, Pangeran Syarif Herry Majelis Kerajaan Kalbar, Pangeran Gusti Syarfini Majelis Kerajaan Kalbar, Pangeran Syamsul Rizal Sekretaris ICKN Kalbar, dan Dato’ Pangeran Elang Perkasa Abdi Nurkamil. 

Sabtu, 02 April 2016

Festival Keraton 2016

Kerajaan Matan Tanjungpura, Ketapang Kalimantan Barat akan menggelar perhelatan akbar Festival Keraton ke-V. Acara rutin tahun ini akan dihelat pada tanggal 15 - 22  Mei 2016.

Berbagai seni tradisional akan di gelar seperti Syair Gulung klasik dan mandi meriam pusaka kerajaan. Seni tari keraton juga akan di gelar kali ini. Ketua panitia Uti Asaji mengatakan bahwa di acara pembukaan akan digelar karnaval sungai, berbagai kapal dan perahu bermotor akan menyemarakan sungai Pawan Ketapang, selain itu  ada parade budaya multi etnis akan menambah meriahnya diacara pembukaan.

Selasa, 08 Maret 2016

ICKN Wilayah KALBAR Dikukuhkan


Eka Kurniawan Wk  Ketua ICKN Kalbar membacakan Deklarasi
Raja Sultan Se-Kalimantan Barat yang tergabung dalam Majelis Kerajaan Kalimantan Barat bersama Cendikiawan Kalimantan Barat mendeklarasikan diri membentuk sebuah wadah Ikatan Cendikiawan Kraton Nusantara (ICKN) Wilayah Kalimantan Barat.

Selasa, 30 Desember 2014

Manfaat Bijak Dana Desa


Oleh Joko Tri Haryanto, 
Pegawai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI*

Pembangunan desa dan daerah jelas menjadi prioritas utama pemerintahan baru. Kue pembangunan yang awalnya hanya berkutat di ibu kota, akan dicoba untuk lebih diratakan ke seluruh Indonesia. Hal tersebut tak lepas dari fenomena ketimpangan pendapatan antar daerah yang stagnan 0,41 dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Jika ditelusuri lebih lanjut, persoalan serius yang muncul adalah tingkat kesenjangan yang terjadi di dalam satu wilayah itu sendiri. Persoalan anggaran sering dianggap sebagai masalah utama, meskipun banyak pihak justru tidak mempermasalahkan. Namun demikian, pemerintah tetap concern dengan persoalan ini, dibuktikan dengan mulai dialokasikannya anggaran Dana Desa untuk tahun 2015. Pengalokasian Dana Desa tersebut merupakan amanat Undang-Undang (UU) Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber Dari APBN.

Selasa, 21 Oktober 2014

Puluhan Raja dan Sultan Hadir di Festival Keraton Matan Tanjungpura


Pembukaan Festival Keraton Matan Tanjungpura ke-III tahun 2014 yang dilaksanakan pada tanggal 18 Oktober kemarin dihadiri puluhan Raja dan Sultan dari Nusantara. Utusan Malaysia yang dipimpin Dato’ Seri Amar Di Raja Che Ku Mohammad Sahidi Bin Che Ku Denang dan Dato’ Seri Paduka Di Raja Jaafar dari Negeri Selangor sebanyak 11 orang. Dari Kesultanan Palembang yang dipimpin Sultan Iskandar Machmud Badaruddin membawa 4 orang pemangku adat kesultanan untuk hadir di Ketapang, Kalimantan Barat. Festival yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun ini juga dihadiri oleh seluruh Raja dan Sultan dari Kalimantan Barat dan Kesultanan Banjar serta Kerajaan lainnya di Nusantara.

Selasa, 07 Oktober 2014

Turis Jerman Kunjungi Rumah Batik Pelangi



Dua turis Jerman Sabrina dan Andrea mengujungi Rumah Batik Pelangi Ketapang Kalbar. Turis dengan minat khusus ini melihat secara langsung proses pembutan batik tulis khas Ketapang.

Senin, 06 Oktober 2014

Kerajaan Matan Gelar Festival Keraton Ke-3


Sumber : Panitia Festival Keraton ke-3

Untuk mendukung pelestarian dan pengembangan kebudayaan daerah, Keraton Matan Tanjungpura, Ketapang Kalimantan Barat akan mengelar Festival Ke-3 pada tanggal 18 sampai dengan 25 Oktober 2014.

Kamis, 03 April 2014

Presiden Luncurkan Indonesia Presidential Scholarship


Presiden SBY secara resmi meluncurkan program Indonesia Presidential Scholarship atau Beasiswa Presiden Republik Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (2/4). Program ini diberikan  kepada WNI untuk menempuh jenjang pendidikan magister (S2) dan doktot (S3) di 50 perguruan tinggu terbaik dunia. Proses pembukaan pendaftaran telah dilakukan di Kemendilbud hingga pertengahan April ini.

Sabtu, 23 Februari 2013

15 Raja Kalimantan Kumpul di Ketapang

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Sebanyak 15 raja se Kalimantan memastikan diri hadir di Kabupaten Ketapang, dalam rangka festival Keraton Matan Tanjungpura ke II.

Rabu, 06 Februari 2013

Pangeran Ratu Menghadap Wamen Kebudayaan

Menjelang kegiatan festival Keraton Matan Tanjungpura Ke-II Pangeran Ratu Kertanegara Gusti Kamboja dan Syarif Muhammad Herry sekretaris Majelis Kerajaan Nusantara Kalimantan Barat menghadap Wakil Menteri Bidang Kebudayaan untuk menyampaikan undangan dan ekspose kegiatan.
Disela kesibukannya Ibu Wamen Wiendu Nuryanti, menyampaikan kesediaannya untuk hadir dan membuka kegiatan festival keraton matan tahun 2013 yang akan berlangsung tanggal 2-8 Maret 2013. Meski hanya beberapa menit ibu Wamen Bidang Kebudayaan memberikan penghargaannya kepada Kerajaan Matan Tanjungpura yang telah mengundangnya. Dalam kesempatan pertemuan tersebut Pangeran Ratu Gusti Kamboja sekilas memaparkan profil dan bentuk kegiatan sekaligus menyampaikan kesediaan hadir para Raja dan Sultan Se-Kalimantan pada acara tersebut.
Para raja yang akan hadir pada kegiatan tersebut antara lain Raja-Raja Kalimantan Barat, Sultan Banjar, Sultan Kutai, Sultan Kotawaringin, Kesultanan, Brunei Darussalam, Akademisi dan Pengiat Budaya dari Sarawak, Sabah, Thailand, BKPBM Yogjakarta.

Minggu, 30 Desember 2012

Gelar Festival Keraton Ke 2

Kerajaan Matan Tanjungpura akan mengelar kembali Festival Keraton yang kedua pada tahun 2013 ini. Menurut Ketua Panitia Pelaksana Uti Assaji, S.Pd festival ke 2 ini akan berbeda formatnya dan akan lebih semarak. Berbagai kegiatan telah dipersiapkan termasuk membahas rangkaian kegiatan.
Kami berharap ujar Assaji, acara kali ini dapat menggandeng sponsorship lebih banyak. Mengenai Jadwal akan dilaksanakan pada bulan Maret, dengan mengambil momentum hari jadi Ketapang.
Panitia masih merancang kegiatan festival seperti karnaval sungai pawan yang akan diikuti banyak peserta, dari kapal besar, sedang hingga yang kecil. Seluruh kegiatan tetap dipusatkan di Keraton Matan Tanjungpura, Mulia Kerta Ketapang Kalbar, tutup Assaji. (*)


Sabtu, 29 Desember 2012

HARI JADI KETAPANG 11 MARET 1418 M



Ditetapkannya Perda Hari Jadi Ketapang secara bersama oleh DPRD dan Pemerintah Kabupaten (Bupati) Ketapang dalam rapat Paripurna DPRD Ketapang tanggal 30 Oktober 2012 merupakan indikasi Pemerintahan Daerah pada diskursus tentang eksistensi sebuah peradaban dan sejarah sosialnya yang kemudian hari menjadi wilayah dan daerah Ketapang serta beberapa daerah otonom lainnya di  Kalimantan Barat dalam sebuah Negara bangsa yang disebut Indonesia.

Menurut Ketua DPRD Ketapang H. Gusti Kamboja yang juga Pangeran Ratu Kertanegara Kerajaan Matan, Penetapan Hari Jadi Ketapang tidak hanya melahirkan kepastian sejarah lokal (local historical necessity) tetapi juga soal kewajaran sejarah (historical fairness) dan lebih dari itu memunculkan semacam kepercayaan diri masyarakat Ketapang dengan identitas lokalnya.

Peristiwa ini cukup fenomenal, mengingat proses pencarian identitas ini sudah merentang cukup lama baik dalam kajian keilmuan dan pemerintahan.
Pada proses pencarian kepastian sejarah telah banyak pihak yang melibat diri, mulai dari pemerintah, pemerhati kebudayaan, sejarahwan, akademisi, tokoh masyarakat dan berbagai pihak lainnya. Beberapa kegiatanpun telah dilakukan, mulai dari diskusi, seminar dan dengar pendapat. Dukungan ini telah diberikan oleh para pihak, mulai dari tokoh masyarakat, seluruh anggota DPRD Ketapang dan Bupati Ketapang, Henrikus.

Dalam penetapan tahun hari jadi Ketapang didasarkan pada prasasti Nisan Makam Keramat Sembilan di Negeri Baru yang bertarikh tahun 1340 Saka atau 1418 Masehi dan merupakan prasasti sejarah tertua yang ditemukan di Kalimantan Barat. Pada prasasti tersebut terdapat angka tahun dengan aksara Sanskerta. Bahasa Sanskerta merupakan rumpun bahasa Indo- Eropa, Indo-Iran, Indo-Arya dan merupakan bahasa klasik India yang digunakan dalam agama Hindu dan Budha. Kata Sanskerta artinya bahasa yang sempurna, tinggi dan berbudaya, lawan dari bahasa Prakerta atau bahasa rakyat. Bahasa ini memiliki usia sejarah yang cukup tua dan ditarikhkan berasal dari sekitar tahun 1700 SM (sebelum masehi).

Kemudian untuk penetapan tanggal dan bulannya didasarkan pada peristiwa pemindahan pusat kerajaan Matan-Tanjungpura ke Mulia Kerta pada tanggal 11 Maret 1876. Jadi dengan menggabungkan dua fakta sejarah lokal tersebut hari jadi Ketapang ditetapkan pada tanggal 11 Maret 1418 M. 

Lebih Lanjut H. Gusti Kamboja mengatakan bahwa ada juga fakta sejarah Ketapang dalam Kronik Cina Chu-Fan Chi  dan sejarah Dinasti Sung (960-1279 buku 489) yang melaporkan, pada tahun 977 M kerajaan Tan-jung wu-lo mengirimkan tiga duta ke istana Sung, begitu juga dalam Prasasti Waringin Pitu (1447 M), wilayah geografis Ketapang dahulu yang disebut Tanjungpura  merupakan nama ibukota negara untuk wilayah  Tanjungnagara (Pulau Kalimantan). Namun kedua bukti fakta sejarah tersebut tidak berada di Ketapang, Prasasti Warigin Pitu letaknya di Jawa Timur serta lebih muda tahunnya dari prasasti Keramat Sembilan dan manuskrip  kronik Chu-Fan Chi berada di Cina.

Dengan demikian hanya peristiwa sejarah pemindahan pusat kerajaan dari Muara Kayong ke Mulia Kerta dan prasasti Makam Keramat Sembilan memiliki kepastian sejarah lokal  (local historical necessity) sosial Ketapang dan kewajaran sejarah (historical fairness) dalam pendirian pemukiman, tatanan sosial dan budaya yang tertua di Kalimantan Barat. (Keraton Matan-Ketapang)